Kamis, 15 Oktober 2009
SEJAK Sabtu (28/3) lalu hingga kemarin dilaksanakan uji kompetensi yang diikuti siswa jurusan administrasi perkantoran di SMK 1 Tarakan. Peserta yang mengikuti uji kompetensi ini sebanyak 85 orang, terdiri 71 siswa SMK 1 Tarakan dan 14 siswa SMK Paguntaka.
Kepala program studi Administrasi Perkantoran, Kasman Sihite menuturkan uji kompetensi ini sebenarnya diprogramkan di kantor industri. Namun pihak industri menolak. Pasalnya pihak industri tersebut memiliki fasilitas terbatas untuk menguji jumlah siswa yang sangat banyak. Terlebih dapat menggangu aktivitas mereka. ”Hal ini tidak menjadi hambatan kami dalam melakukan uji kompetensi ini, sepanjang fasilitas disekolah memenuhi, ya disekolah saja,” kata Kasman kepada Radar Tarakan saat ditemui Radar Tarakan di sela-sela pengawasan uji kompetensi siswa kemarin (31/3).
Ujian ini dimulai pada pukul 08.00 hingga 13.00 Wita. Yang diujikan dalam hal ini ada enam kompetensi meliputi penanganan surat, internet, korespondensi, agenda kerja pimpinan, perjalanan kerja pimpinan dan kas kecil. ”Soal-soal praktik ini sesuai dengan standar nasional dari pusat,” terangnya.
Selain itu, Kasman mengatakan, kriteria penilaian uji kompetensi yakni persiapan kerja, sistematika dan cara kerja, hasil kerja, sikap kerja serta waktu yang di gunakan. ”Semakin cepat siswa mengerjakan uji praktek ini, semakin tinggi nilai yang didapatkan,” jelas Kasman.
Ia menjelaskan, tahun lalu siswa hanya memilih salah satu dari keenam kompetensi tersebut karena mereka masih menggunakan sistem proyek work. ”Siswa diminta untuk membuat proyek dengan menyiapkan proposal dan lainnya, namun sekarang soal sudah disediakan dari pusat kami tinggal melaksanakan uji praktek dalam waktu tiga hari,” jelasnya.
Untuk penilaian, lanjutnya, pihak acesor internal maupun eksternal yang menilai, namun tidak keluar berdasarkan dari ketentuan-ketentuan pusat provinsi.
Secara terpisah, Humas SMK 1 Tarakan, Cartika menambahkan selain jurusan administrasi perkantoran, hari ini juga berlangsung untuk jurusan pariwisata. Namun, siswa uji praktek pariwisata ini melakukan di luar sekolah yakni di musium Tarakan Jl. Jempang Kp. Baru dan Mangrove Jl. Gajah Mada. Perbedaannya terletak pada kompetensi. ”Kalau pariwisata ada tiga kompetensi yakni tour planning, tour gueding, dan ticketing,” kata Cartika.
”Dalam perjalanan tour selain membuat perencanaan siswa secara langsung di uji bagaimana membawa tamu kesuatu objek dan menjelaskan obyek tersebut,” tambahnya.
Menurut Cartika, tuntutan siswa SMK berbeda dengan siswa SMA. Siswa SMK dituntut untuk terampil dan mampu bekeja sesuai bidangnya masing-masing. ”Karena tuntutan kualitas lulusan SMK yang terus meningkat, memang perlu dijawab dengan penyelenggaraan ujian kompetensi sebagai sertifikat keahlian siswa,” pungkasnya.(*/rt-5)


0 Comments:
Post a Comment